Rabu, 07 November 2018

                                                       BAD DAY

Bunyi alarm terdengar keras dari dalam kamar seorang gadis yang tertidur pulas, waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi. Perlahan ia mulai membuka matanya dan melihat ke arah jendela, dan benar saja bahwa langit telah berganti warna.
“wow sudah pagi, aku harus bergegas mandi” ucap Hinata
Seorang gadis berumur 19 tahun, yang tinggal seorang diri di kota Metropolitan yang sedang menempuh pendidikan di bangku perguruan tinggi disalah satu Universitas ternama di Tokyo.
Hinata namanya, ia seorang gadis yang pintar dan cantik, hanya saja entah mengapa ia terlalu bodoh dalam hubungan asmara
Setelah berpakaian rapih dan tak lupa memoles sedikit bedak di wajahnya, ia langsung bergegas berangkat ke kampus dengan berjalan kaki. Udara pagi yang sejuk membuatnya senang meskipun berjalan seorang diri, menikmati hembusan angin yang membelai manja rambut hitamnya itu.
“waah ramai sekali hari ini, ada apa gerangan ya?” ucapnya penasaran saat melihat kondisi kampus yang ramai sekali tak seperti biasanya.
Dari kejauhan terdengar suara teriakan seorang perempuan memanggil namaya sambil melambaikan tangan
“Hinata!!! Ayo kita donor darah” ajak perempuan itu yang mana ia merupakan teman baik Hinata, namanya Miou. Ajakannya itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Hinata.
“hah? donor darah? aku belum pernah, dan lagi aku takut banget sama jarum” ucapnya
“aish sama jarum aja takut. Takut itu sama yang diatas bukan sama jarum” ucap Miou
Dan seakan menenangkan temannya itu, Hinata mengiyakan saja ajakan temannya agar ia tidak mendengar ocehannya lebih lanjut. Lalu mereka berdua berjalan masuk ke ruang kelas. Di dalam kelas ternyata sudah ada dosen yang menunggu.  
Mata kuliah hari itu adalah English Literary, yang mana mempelajari sebuah sastra dan kawan-kawan nya seperti drama, puisi, prosa, dan,pantun. Sementara Miou sangat menyukai mata kuliah hari itu dan menyimak sekali saat dosen berbicara didepan kelas, tidak dengan Hinata yang asyik bermain gadget dengan cara sembunyi-sembunyi yang ia letakkan dibawah bukunya, takut bila nanti ketahuan bu dosen bisa berakibat fatal nantinya.
“Hemm, sastra itu sulit dan lagi berlebihan. Menurutku seseorang yang mendalami ilmu sastra dapat menjadi seorang Casanova” ucapnya seorang diri
Karena Miou duduk disebelahnya, dan ditambah ia punya pendengaran dan pemahaman yang baik akan ucapan temannya yang aneh itu, rasanya tak tahan jika dirinya tidak berkomentar
“Hey Hinata, sastra itu keren. Aku ingin sekali punya kekasih yang pintar dalam sastra karena pasti romantis orangnya. Nantinya setiap harinya hidupku akan dipenuhi oleh kata-kata indah dan kejutan darinya yang tak akan aku ketahui” ucap Miou dengan bangganya
Hinata tidak setuju akan hal yang dikatakan oleh temannya itu, baginya seorang cowok yang pintar dalam sastra merupakan kandidat perayu nomor satu a.k.a Playboy a.k.a Cassanova
“hemm, apanya yang bagus dari itu? Kalau kamu tidak percaya lihat saja nanti” sahut Hinata
Kesal dengan ucapan Hinata, tanpa fikir panjang Miou memukul kepala Hinata dengan buku
“Ouch! Sakit Miou” teriak Hinata
 Miou tersenyum puas melihat temannya  itu. Tanpa mereka sadari, mereka berdua sedari tadi itu berisik sekali dan alhasil mereka dikeluarkan oleh dosen dari ruang kelas.
“Aish, menyebalkan sekali, ngobrol aja gak boleh, kita itu tinggal di negara demokrasi, jadi tentu boleh-boleh saja bersuara” ucap Hinata yang tidak terima akan ketidakadilan yang menimpanya
“hooh, betul kawan! Ditambah kita kuliah disini itu bayar tidak gratis, dan tidak adil sekali kita dikeluarkan dari kelas, kita itu berhak mendapat pendidikan. Aish, ditambah mata kuliah favoritku pula” ucap Miou dengan kesal bercampur sedih
“Ini semua karena kamu Hinata” ucap Miou dengan kesal
“Hah? Apa kamu bilang? Kok jadi salah aku? Jelas-jelas salah kamu mukul kepalaku make buku, emang gak sakit? Sakit tauk” ucap Hinata dengan santainya
Dan Miou tidak terima akan hal itu, karena baginya Hinatalah yang sudah membuatnya kesall. Lalu ia menarik dan memukul temannya lagi dengan tas. Begitupun sebaliknya, mereka berdua saling menyerang satu sama lain, tak ada yang mau mengalah.
Selang beberapa menit mereka kelelahan diiringi suara nafas yang terengah-engah
 “sudah-sudah, aku nyerah, capek banget” ucap Hinata
“iya.. aku juga, capek punya teman seperti kamu” ucap Miou
Hinata melirik tajam kearah Miou, tanda bahwa ia siap menyerangnya lagi dengan tasnya. Tetapi tidak jadi karena mereka berdua saling memandang dan kemudian tertawa bersama
Lalu Miou teringat event donor darah yang diselenggarakan Palang Merah Indonesia a.k.a PMI goes to Campus  tadi pagi. Dia mengajak Hinata untuk kesana secepatnya daripada tidak ada yang dikerjakan di luar kelas seperti itu.
“Ayo, Hinata! Kita donor darah. Dapat makanan gratis pula hehehe” ajak Miou dengan senangnya
“Hemm aku takut Miou, kalau terjadi sesuatu yang buruk padaku kamu mau tanggung jawab?”  balas Hinata
“Aish temanku, kamu lucu sekali. Jangan berfikir yang aneh-aneh okay. Donor darah itu sehat dan tidak ada efek sampingnya” ucap Miou sambil meyakinkan temannya itu lalu tertawa
Sebenarnya Hinata mau saja, tetapi dia takut. Tapi setelah ia berfikir keras dan melawan rasa takutnya, ia memutuskan untuk mendonorkan darahnya. Karena ia juga berfikir bahwa satu kantung darah yang ia sumbangkan bisa menyelamatkan nyawa orang lain yang sedang sangat membutuhkan.
Setibanya disana, mereka berdua mengisi formulir yang berisi pertanyaan dan pernyataan kesediaan diri untuk mendonorkan sekantung darah seberat 300 ml. Setelah itu mereka mendapat nomor antrian dan menunggu di ruang tunggu.
Setelah menunggu akhirnya sampailah pada giliran mereka dipanggil untuk masuk kedalam ruangan. Nampak berjejer beberapa tandu untuk relawan, berbaring dihadapan mereka.
Rasa takut Hinata muncul kembali, rasanya ingin sekali ia keluar dari ruangan itu, lalu ia berjalan kesalah satu tandu tersebut kemudian berbaring. Petugas yang mana sudah paruh baya menanyainya
“Sudah pernah donor atau belum?”
“Belum pernah bu, baru pertama kalinya ini” jawab Hinata
Saat perawat mengeluarkan jarum suntik lalu ditusukkan kedalam lengan tangan kanannya, ia mengeluh sakit dan menarik tangannya. Rasanya sakit sekali, seperti nyawanya keluar dari raganya walaupun ia sendiri tidak tahu persis bagaimana rasanya dicabut nyawa
Sementara Miou yang terlentang berada disebelahnya nampak tidak bersuara dan tenang, seakan ia mampu menahan rasa sakit yang menusuknya.
Hinata dibuat heran dengan temannya yang satu itu. Dalam hatinya ia berkata
“Apa dia robot?” bagaimana bisa tidak ada reaksi sakit sedikitpun.
Untung saja petugas PMI itu baik, dan sabar. Sehingga ia tidak marah terhadap Hinata. Kemudian petugas itu meminta tangan sebelah kiri Hinata, dan dia bingung sekali, kenapa tangan yang satunya juga harus disuntik.
Lalu perawat tersebut memberitahu apa yang terjadi yang terjadi. Dan alhasil Hinata sangat menderita sekali karena harus disuntik hingga dua kali.
Tetapi, dia senang saat melihat kantung darah miliknya yang telah terisi penuh dengan darahnya yang bergolongan O itu.
Sebelum beranjak dari tempat tidurnya, petugas itu menggulung lengan baju Hinata sambil berbincang sedikit dengannya.
“jangan takut untuk donor darah lagi ya mbak” ucap si petugas
Sementara Hinata hanya tersenyum karena masih merasakan sakit yang ia rasakan
Lalu petugas itu tiba-tiba bertanya
“mbaknya suda punya pacar belum?” tanya si petugas dengan tertawa
Belum sempat menjawab petugas itu nampak yakin sekali kalau Hinata sudah mempunyai pacar, sehingga Hinata hanya tersenyum manis kepada si petugas.
“Besok kalau donor darah ajak pacarnya juga ya mbak, jadi agar merasakan sakit bareng-bareng. kan romantis tuh” ucap petugas itu sambil tertawa dengan senangnya
Setelah itu dia mengucapkan terima kasih kepada Hinata, dan Hinata menjawab terima kasih kembali pada si petugas.
Lalu Hinata beranjak keluar dari ruangan
“Hinata, kamu itu barusan kenapa?” tanya Miou yang sudah lebih dulu keluar ruangan
“Aish, kamu tidak tahu rasanya.. luar biasa! Sakit sekali” balas Hinata
“Iya memang sakit.. namanya juga donor darah harus siap-siap sakit karena ditusuk oleh jarum yang bisa dibilang lumayan besar. Tapi intinya aku bangga padamu kawan! Tak kusangka kamu berani juga. Hinata Keren” ucap Miou dengan bangga, untuk menghibur temannya itu.
Beranjak keluar ruangan, mereka diberi sekantung tas oleh panitia penyelenggara yang isinya jus, wafer, susu, madu dan lain-lain.
Mereka berdua duduk di gazebo kampus sambil meminum jus yang mereka dapat untuk memulihkan kembali energi mereka.
Setelah itu mereka berdua memutuskan untuk pulang dan beristirahat dirumah masing-masing.
Malam harinya Hinata menelfon Miou via whatsapp, dan menanyakan bagaimana kondisinya
“Halo Miou, bagaimana keadaanmu? Sudah makan belum?”
“Hey Hinata, seharusnya aku yang bertanya bagaimana keadaanmu. Aku baik-baik saja” ucap Miou
“Hemm kawan, rasa sakitnya kenapa tidak hilang-hilang ya, ditambah badanku rasanya tidak enak dan terasa panas” tanya Hinata yang membuat Miou tertawa dengan kerasnya
“Hey Miou, temanku yang menyebalkan, cepat jawab” kesal Hinata yang menunggu jawaban temannya yang sedang asyik tertawa tanpa menghiraukan pertanyaannya itu.
Miou dengan jahilnya memutuskan panggilan dengan Hinata. Lalu ia berfikir, pasti temannya itu sedang mengoceh kesal. Dan benar saja Hinata dikamarnya kesal sekali dengan temannya itu yang malah mematikan panggilan darinya tanpa ba –bi -bu terlebih dahulu
Tak lama sebuah pesan dari nomor yang tak dikenal masuk kedalam gadget milik Hinata
“PING”
Bingung akan pesan masuk itu, dia lebih memilih tidak menjawabnya.
Kring…kring… (dering handphone berbunyi)
Sempat bingung untuk mengangkat panggilan itu atau tidak. Dan akhirnya ia memutuskan untuk mengangkatnya
“Halo, apa benar ini dengan Hinata? Mahasiswa Jurusan pendidikan bahasa Inggris?” terdengar suara perempuan disebrang sana
“Iya betul, saya Hinata. Maaf dengan siapa ya?” tanya Hinata dengan penuh perasaan penasaran dan juga heran
“Saya Azura, mahasiswi jurusan bahasa dan sastra Korea. Saya …” jawab perempuan itu
Mendengar kelanjutan jawaban yang perempuan itu katakan, seketika itu, tangan Hinata gemetar dan bagaikan disambar petir mendengar kabar yang sangat tak terduka ia dengar dari ucapan si penelfon wanita itu.
Tanpa terasa air mata jatuh menetes membasahi pipinya yang chubby bagaikan kue bakpao. Entah mengapa rasanya sakit sekali bagaikan sebuah anak panah menancap tepat dibagian jantungnya dan sekelebat tiba-tiba semua memori itu muncul dimatanya
Dan dalam hati ia berkata
“Iya, aku tahu hari ini akan datang. Kenapa juga aku harus menangis, dan mengapa juga aku harus  jatuh cinta pada lelaki itu. Semua ini salahku dan juga karena kebodohanku ” seakan memberi ketenangan terhadap dirinya sendiri.

                                                            TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Deconstructive Analysis Novel Luka Perempuan Asap ‘’Air Mata di Antara Pohon Sawit’’

ABSTRACT Luka Perempuan Asap is a novel written by Nafi`ah al-Ma`rab which is one of the forms of fictional literature th...