BAD DAY
Bunyi
alarm terdengar keras dari dalam kamar seorang gadis yang tertidur pulas, waktu
menunjukkan pukul 07.00 pagi. Perlahan ia mulai membuka matanya dan melihat ke
arah jendela, dan benar saja bahwa langit telah berganti warna.
“wow sudah pagi, aku harus bergegas mandi” ucap Hinata
Seorang
gadis berumur 19 tahun, yang tinggal seorang diri di kota Metropolitan yang
sedang menempuh pendidikan di bangku perguruan tinggi disalah satu Universitas
ternama di Tokyo.
Hinata
namanya, ia seorang gadis yang pintar dan cantik, hanya saja entah mengapa ia
terlalu bodoh dalam hubungan asmara
Setelah
berpakaian rapih dan tak lupa memoles sedikit bedak di wajahnya, ia langsung
bergegas berangkat ke kampus dengan berjalan kaki. Udara pagi yang sejuk membuatnya
senang meskipun berjalan seorang diri, menikmati hembusan angin yang membelai
manja rambut hitamnya itu.
“waah ramai sekali hari ini, ada apa gerangan ya?” ucapnya penasaran saat melihat kondisi kampus yang ramai sekali tak seperti biasanya.
Dari
kejauhan terdengar suara teriakan seorang perempuan memanggil namaya sambil
melambaikan tangan
“Hinata!!! Ayo kita donor darah” ajak perempuan itu yang mana ia merupakan teman baik Hinata, namanya Miou. Ajakannya itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Hinata.
“hah? donor darah? aku belum pernah, dan lagi aku takut banget sama jarum” ucapnya
“aish sama jarum aja takut. Takut itu sama yang diatas bukan sama jarum” ucap Miou
Dan seakan
menenangkan temannya itu, Hinata mengiyakan saja ajakan temannya agar ia tidak
mendengar ocehannya lebih lanjut. Lalu mereka berdua berjalan masuk ke ruang
kelas. Di dalam kelas ternyata sudah ada dosen yang menunggu.
Mata
kuliah hari itu adalah English Literary, yang mana mempelajari sebuah sastra
dan kawan-kawan nya seperti drama, puisi, prosa, dan,pantun. Sementara Miou
sangat menyukai mata kuliah hari itu dan menyimak sekali saat dosen berbicara
didepan kelas, tidak dengan Hinata yang asyik bermain gadget dengan cara sembunyi-sembunyi yang ia letakkan dibawah
bukunya, takut bila nanti ketahuan bu dosen bisa berakibat fatal nantinya.
“Hemm, sastra itu sulit dan lagi berlebihan. Menurutku seseorang yang mendalami ilmu sastra dapat menjadi seorang Casanova” ucapnya seorang diri
Karena
Miou duduk disebelahnya, dan ditambah ia punya pendengaran dan pemahaman yang
baik akan ucapan temannya yang aneh itu, rasanya tak tahan jika dirinya tidak
berkomentar
“Hey Hinata, sastra itu keren. Aku ingin sekali punya kekasih yang pintar dalam sastra karena pasti romantis orangnya. Nantinya setiap harinya hidupku akan dipenuhi oleh kata-kata indah dan kejutan darinya yang tak akan aku ketahui” ucap Miou dengan bangganya
Hinata
tidak setuju akan hal yang dikatakan oleh temannya itu, baginya seorang cowok
yang pintar dalam sastra merupakan kandidat perayu nomor satu a.k.a Playboy a.k.a Cassanova
“hemm, apanya yang bagus dari itu? Kalau kamu tidak percaya lihat saja nanti” sahut Hinata
Kesal
dengan ucapan Hinata, tanpa fikir panjang Miou memukul kepala Hinata dengan
buku
“Ouch! Sakit Miou” teriak Hinata
Miou tersenyum puas melihat temannya itu. Tanpa mereka sadari, mereka berdua
sedari tadi itu berisik sekali dan alhasil mereka dikeluarkan oleh dosen dari
ruang kelas.
“Aish, menyebalkan sekali, ngobrol aja gak boleh, kita itu tinggal di negara demokrasi, jadi tentu boleh-boleh saja bersuara” ucap Hinata yang tidak terima akan ketidakadilan yang menimpanya
“hooh, betul kawan! Ditambah kita kuliah disini itu bayar tidak gratis, dan tidak adil sekali kita dikeluarkan dari kelas, kita itu berhak mendapat pendidikan. Aish, ditambah mata kuliah favoritku pula” ucap Miou dengan kesal bercampur sedih
“Ini semua karena kamu Hinata” ucap Miou dengan kesal
“Hah? Apa kamu bilang? Kok jadi salah aku? Jelas-jelas salah kamu mukul kepalaku make buku, emang gak sakit? Sakit tauk” ucap Hinata dengan santainya
Dan Miou
tidak terima akan hal itu, karena baginya Hinatalah yang sudah membuatnya
kesall. Lalu ia menarik dan memukul temannya lagi dengan tas. Begitupun
sebaliknya, mereka berdua saling menyerang satu sama lain, tak ada yang mau
mengalah.
Selang
beberapa menit mereka kelelahan diiringi suara nafas yang terengah-engah
“sudah-sudah, aku nyerah, capek banget” ucap Hinata
“iya.. aku juga, capek punya teman seperti kamu” ucap Miou
Hinata
melirik tajam kearah Miou, tanda bahwa ia siap menyerangnya lagi dengan tasnya.
Tetapi tidak jadi karena mereka berdua saling memandang dan kemudian tertawa bersama
Lalu Miou
teringat event donor darah yang diselenggarakan Palang Merah Indonesia a.k.a PMI
goes to Campus tadi pagi. Dia
mengajak Hinata untuk kesana secepatnya daripada tidak ada yang dikerjakan di
luar kelas seperti itu.
“Ayo, Hinata! Kita donor darah. Dapat makanan gratis pula hehehe” ajak Miou dengan senangnya
“Hemm aku takut Miou, kalau terjadi sesuatu yang buruk padaku kamu mau tanggung jawab?” balas Hinata
“Aish temanku, kamu lucu sekali. Jangan berfikir yang aneh-aneh okay. Donor darah itu sehat dan tidak ada efek sampingnya” ucap Miou sambil meyakinkan temannya itu lalu tertawa
Sebenarnya
Hinata mau saja, tetapi dia takut. Tapi setelah ia berfikir keras dan melawan
rasa takutnya, ia memutuskan untuk mendonorkan darahnya. Karena ia juga
berfikir bahwa satu kantung darah yang ia sumbangkan bisa menyelamatkan nyawa
orang lain yang sedang sangat membutuhkan.
Setibanya
disana, mereka berdua mengisi formulir yang berisi pertanyaan dan pernyataan
kesediaan diri untuk mendonorkan sekantung darah seberat 300 ml. Setelah itu
mereka mendapat nomor antrian dan menunggu di ruang tunggu.
Setelah
menunggu akhirnya sampailah pada giliran mereka dipanggil untuk masuk kedalam
ruangan. Nampak berjejer beberapa tandu untuk relawan, berbaring dihadapan
mereka.
Rasa takut
Hinata muncul kembali, rasanya ingin sekali ia keluar dari ruangan itu, lalu ia
berjalan kesalah satu tandu tersebut kemudian berbaring. Petugas yang mana
sudah paruh baya menanyainya
“Sudah pernah donor atau belum?”
“Belum pernah bu, baru pertama kalinya ini” jawab Hinata
Saat
perawat mengeluarkan jarum suntik lalu ditusukkan kedalam lengan tangan
kanannya, ia mengeluh sakit dan menarik tangannya. Rasanya sakit sekali,
seperti nyawanya keluar dari raganya walaupun ia sendiri tidak tahu persis
bagaimana rasanya dicabut nyawa
Sementara
Miou yang terlentang berada disebelahnya nampak tidak bersuara dan tenang, seakan
ia mampu menahan rasa sakit yang menusuknya.
Hinata
dibuat heran dengan temannya yang satu itu. Dalam hatinya ia berkata
“Apa dia robot?” bagaimana bisa tidak ada reaksi sakit sedikitpun.
Untung
saja petugas PMI itu baik, dan sabar. Sehingga ia tidak marah terhadap Hinata.
Kemudian petugas itu meminta tangan sebelah kiri Hinata, dan dia bingung
sekali, kenapa tangan yang satunya juga harus disuntik.
Lalu
perawat tersebut memberitahu apa yang terjadi yang terjadi. Dan alhasil Hinata
sangat menderita sekali karena harus disuntik hingga dua kali.
Tetapi,
dia senang saat melihat kantung darah miliknya yang telah terisi penuh dengan
darahnya yang bergolongan O itu.
Sebelum
beranjak dari tempat tidurnya, petugas itu menggulung lengan baju Hinata sambil
berbincang sedikit dengannya.
“jangan takut untuk donor darah lagi ya mbak” ucap si petugas
Sementara
Hinata hanya tersenyum karena masih merasakan sakit yang ia rasakan
Lalu
petugas itu tiba-tiba bertanya
“mbaknya suda punya pacar belum?” tanya si petugas dengan tertawa
Belum
sempat menjawab petugas itu nampak yakin sekali kalau Hinata sudah mempunyai pacar, sehingga Hinata hanya tersenyum
manis kepada si petugas.
“Besok kalau donor darah ajak pacarnya juga ya mbak, jadi agar merasakan sakit bareng-bareng. kan romantis tuh” ucap petugas itu sambil tertawa dengan senangnya
Setelah
itu dia mengucapkan terima kasih kepada Hinata, dan Hinata menjawab terima
kasih kembali pada si petugas.
Lalu Hinata
beranjak keluar dari ruangan
“Hinata, kamu itu barusan kenapa?” tanya Miou yang sudah lebih dulu keluar ruangan
“Aish, kamu tidak tahu rasanya.. luar biasa! Sakit sekali” balas Hinata
“Iya memang sakit.. namanya juga donor darah harus siap-siap sakit karena ditusuk oleh jarum yang bisa dibilang lumayan besar. Tapi intinya aku bangga padamu kawan! Tak kusangka kamu berani juga. Hinata Keren” ucap Miou dengan bangga, untuk menghibur temannya itu.
Beranjak
keluar ruangan, mereka diberi sekantung tas oleh panitia penyelenggara yang
isinya jus, wafer, susu, madu dan lain-lain.
Mereka
berdua duduk di gazebo kampus sambil
meminum jus yang mereka dapat untuk memulihkan kembali energi mereka.
Setelah itu
mereka berdua memutuskan untuk pulang dan beristirahat dirumah masing-masing.
Malam
harinya Hinata menelfon Miou via whatsapp, dan menanyakan bagaimana kondisinya
“Halo Miou, bagaimana keadaanmu? Sudah makan belum?”
“Hey Hinata, seharusnya aku yang bertanya bagaimana keadaanmu. Aku baik-baik saja” ucap Miou
“Hemm kawan, rasa sakitnya kenapa tidak hilang-hilang ya, ditambah badanku rasanya tidak enak dan terasa panas” tanya Hinata yang membuat Miou tertawa dengan kerasnya
“Hey Miou, temanku yang menyebalkan, cepat jawab” kesal Hinata yang menunggu jawaban temannya yang sedang asyik tertawa tanpa menghiraukan pertanyaannya itu.
Miou dengan
jahilnya memutuskan panggilan dengan Hinata. Lalu ia berfikir, pasti temannya
itu sedang mengoceh kesal. Dan benar saja Hinata dikamarnya kesal sekali dengan
temannya itu yang malah mematikan panggilan darinya tanpa ba –bi -bu terlebih
dahulu
Tak lama sebuah
pesan dari nomor yang tak dikenal masuk kedalam gadget milik Hinata
“PING”
Bingung
akan pesan masuk itu, dia lebih memilih tidak menjawabnya.
Kring…kring…
(dering handphone berbunyi)
Sempat
bingung untuk mengangkat panggilan itu atau tidak. Dan akhirnya ia memutuskan
untuk mengangkatnya
“Halo, apa benar ini dengan Hinata? Mahasiswa Jurusan pendidikan bahasa Inggris?” terdengar suara perempuan disebrang sana
“Iya betul, saya Hinata. Maaf dengan siapa ya?” tanya Hinata dengan penuh perasaan penasaran dan juga heran
“Saya Azura, mahasiswi jurusan bahasa dan sastra Korea. Saya …” jawab perempuan itu
Mendengar kelanjutan
jawaban yang perempuan itu katakan, seketika itu, tangan Hinata gemetar dan
bagaikan disambar petir mendengar kabar yang sangat tak terduka ia dengar dari
ucapan si penelfon wanita itu.
Tanpa
terasa air mata jatuh menetes membasahi pipinya yang chubby bagaikan kue bakpao.
Entah mengapa rasanya sakit sekali bagaikan sebuah anak panah menancap tepat
dibagian jantungnya dan sekelebat tiba-tiba semua memori itu muncul dimatanya
Dan dalam
hati ia berkata
“Iya, aku tahu hari ini akan datang. Kenapa juga aku harus menangis, dan mengapa juga aku harus jatuh cinta pada lelaki itu. Semua ini salahku dan juga karena kebodohanku ” seakan memberi ketenangan terhadap dirinya sendiri.
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar